Ya Tuhaaan. Aku benar-benar sudah terlalu jatuh cinta dengan birunya samudera lautan ciptaan-Mu. Mereka tidak pernah gagal mencuri perhatian mataku. Tak pernah gagal untuk membuatku jatuh cinta.
“Yang tersisa dari pantai memang cuma andai:
pasir yang sunyi, buih yang lekas putih,
dan setengah jejak langkah kaki.”
“Aku mencintaimu, seperti ombak kepada pantai,
meski laut tak pernah diciptakan.”
“Ku cukupkan sepasang inisial pada bibir pantai yang dingin,
dan berharap cinta tak dihapus ombak.”
“Di pantai yang tenang, buih-buih berenang,
mencipta kenangan dalam jejak-jejak usang.”
“Engkau pantai bagi hatiku yang gelombang.
Dekatmu membuat pergi, jauhmu memanggilku datang.”
“'Aku mencintaimu', begitu laut berkata,
setiap kali ia menampar pantai dengan ombaknya.”
“Aku dan kau, kuharap, ada di pantai lengang itu, menjemur hati kita basah,
riangkan segala sesuatu yang kau namai resah.”
“Aku adalah lautmu, cintailah aku seperti ombak.
Ombak akan selalu kembali,
dan tak pernah benar-benar meninggalkan lautnya sendiri.”
“Aku selalu menganggap rindu adalah adalah pantai tak bertepi, di laut-laut sunyi.”
“Hatimu sedalam lautan, kukira aku telah menyelam, ternyata hanya bermain-main ombak yang gelisah di pantai.”
“Kita adalah ombak, yang saling melepas di pantai-pantai terjal,
tapi tak pernah kehilangan.”
“Kau adalah pantai, dan aku lautmu;
rindu saling berpeluk.”
“Bersabdalah ombak pada laut:
kibarkan layar jantung perahu.
hiduplah, seberapa jauh menaklukkan ketakutan, pada waktu.”
“Aku hanya diam, memandang laut yang paling jauh.
Setiap ombaknya mengalun, pantai jadi kepayang.”
“Di hidup yang bagai laut, kau adalah ombak, dan aku pantai.
Jika laut tak punya pantai, ke manakah ombak melabuhkan riuhnya?”
“Rindu menjadi haru biru air laut,
hembusan angin pantai mengantarkanku
ke pelukan ombak yang menerjang.”
“Tanpa cinta, hatiku hanya pantai yang jauh dari gemuruh laut.”
“Pasir putih, hening laut.
Kita berjalan di pantai,
dan membiarkan sisa hangatnya tertinggal di telapak kaki kita, selamanya.”
“Di tepian pantai, aku tengah memandang jauh ke laut lepas,
dan menemukanmu karam, di palung terdalam pikiranku.”
“Rinduku seperti deburan ombak; bergelombang, berteriak kepada pantai;
mungkin, laut yang menyatukan kita.”
“Kutulis sebuah sajak tentang rindu yang terombang-ambing di laut luas bernama jarak,
hingga terdampar di pantai hatimu.”
“Sebelumnya, kita tak pernah tahu,
laut adalah maut yang lembut.”
“Waktu, jatuh cinta kepada matamu,
sepasang laut, yang sanggup melembutkan maut.”
“Rindu tak lain laut di hadapanmu,
deburnya adalah maut,
dan kau sedang berdiri di tebing pantai yang menginginkan kau mati.”
P.S: Ya, karena laut, dan pantai, adalah objek yang paling indah untuk sajak-sajak terindah.
————————————————————————————————————————
God, I'm too in love!
Aku jatuh cinta dan akan selalu jatuh cinta dengan laut dan pantai beserta ombaknya, pasirnya, anginnya, awannya, biru langitnya, dan birunya laut dan pantai itu sendiri. :)