Tuesday, December 24, 2013

Aku mulai membenci waktu.
Tidak, aku memang sudah lama membencinya. Bahkan aku lebih membencinya lagi saat ini.
Ia perlahan mencurimu dariku.

Waktu terlalu banyak menuntutku pada hal-hal yang tak kumau.
Sesekali, aku ingin menjadi waktu;
yang demikian tabah menemanimu, melupakanku.

Aku ingin menjadi waktu.
Aku ingin leluasa mencintaimu, dari masa ke masa; tanpa takut lapuk oleh usia.

Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh waktu, 
tak tersentuh langit-langit doaku;
ialah ketiadaanmu.

Dalam setiap detik, rinduku tak mau berjarak.
Dalam setiap detik, cemburuku ingin kau petik.
Mungkin seperti itulah waktu merawat cintaku.

Tahukah kamu berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk kehilanganmu? 
Dan nyatanya, rindu ialah jarak yang tak tertempuh; kecuali waktu. 

Saat aku menunggu, ingin rasanya ku asah pisau;
agar dapat kurasakan betapa waktu menajam-najamkan bilah rindu padamu.

Waktu takkan sanggup memahami; 
seberapa lama aku ingin bersamamu.

Sebab aku tak tahu mengapa terus terhanyut mencintaimu,
biarlah arus waktu yang dapat membawaku ke muara yang hanya Tuhan yang tahu.

Aku ingin di setiap rentang jarak dan waktu kita hanya ada sepasang rindu,
sedangkan cemburu; biar saja menjadi debu.

Jika waktu mesti dibeli, biarkan aku mengejarmu;
untuk kuajarkan hari-hari yang tak dapat berhenti.

Kita adalah dua insan yang buta;
waktu adalah jalannya, rindu penuntun dan takdir hanyalah akhir ujung penuh tanya.

Suatu saat, waktu akan membuat kita asing. 
Dan kau tahu, untuk tetap mengenalmu; aku tak pernah ambil pusing.

Kapan kau datang lagi; mengingatkanku bahwa waktu itu adalah sangat berharga saat denganmu?
Ke dalam rongga paru-paruku meniuplah rindu, sebelum segalanya mengabu oleh waktu.

Sesuatu yang ku sebut rindu, adalah celah waktu;
diantara kecemasan dan kehilangan, diantara kebahagiaan dan ketiadaan. 


Meskipun aku membenci waktu,
cintai aku setabah waktu; melangkah tanpa pernah peduli kisah lalu.

Meskipun aku membenci waktu,
aku ingin berterimakasih; sebab ia sudah mengajariku perihal menunggu.

Sunday, December 22, 2013

Saturday, November 9, 2013

Ketika  mataku meminta untuk terus melihat punggungmu, 
hingga hilang dibalik keramaian..
Karena sesungguhnya, melihat punggungmu dari jauh saja sudah membahagiakanku seharian.
Aku sudah merasa tak kesepian lagi. Aku sudah merasa nyaman.

Yang aku suka itu adalah saat aku melihat punggungmu tanpa kau tau aku sedang melihatmu.
Kenapa harus punggung?
Sebab kau takkan bisa melihat punggungmu sendiri. Kau butuh orang lain untuk melihatnya, dan akulah yang dengan senang hati melakukannya.

Aku suka melihat punggungmu, 
mengamatimu dari belakang...
Kemudian, menebak ekspresi wajahmu diam-diam..
Sungguh, itu sudah lebih dari cukup. :)

Tuesday, October 15, 2013

TULUS - Sepatu

Kita adalah sepasang sepatu
Selalu bersama tak bisa bersatu
Kita mati bagai tak berjiwa
Bergerak karena kaki manusia
Aku sang sepatu kanan
Kamu sang sepatu kiri
Kusenang bila diajak berlari kencang
Tapi aku takut kamu kelelahan
Ku tak masalah bila terkena hujan
Tapi aku takut kamu kedinginan
Kita sadar ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa
Terasa lengkap bila kita berdua
Terasa sedih bila kita di rak berbeda
Didekatmu kotak bagai nirwana
Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya
Cinta memang banyak bentuknya
Mungkin tak semua bisa bersatu

Saturday, September 14, 2013

Kalo kita punya firasat tentang seseorang, 
apakah kita harus ngasitau orang itu? 
Dan kalo udah dikasih tau, apa kejadiannya bisa dibatalin?

Gimana kita bisa tau kalo sesuatu itu firasat atau bukan?
Kalo aku nggak suka sama firasat aku gimana?
Apa gunanya kita punya firasat kalo kita ga bisa merubahnya?

     
                                                                                            –Rectoverso

Tuesday, September 10, 2013

Ya Tuhaaan. Aku benar-benar sudah terlalu jatuh cinta dengan birunya samudera lautan ciptaan-Mu. Mereka tidak pernah gagal mencuri perhatian mataku. Tak pernah gagal untuk membuatku jatuh cinta.

“Yang tersisa dari pantai memang cuma andai: 
pasir yang sunyi, buih yang lekas putih, 
dan setengah jejak langkah kaki.”

“Aku mencintaimu, seperti ombak kepada pantai, 
meski laut tak pernah diciptakan.”

“Ku cukupkan sepasang inisial pada bibir pantai yang dingin, 
dan berharap cinta tak dihapus ombak.”

“Di pantai yang tenang, buih-buih berenang, 
mencipta kenangan dalam jejak-jejak usang.”

“Engkau pantai bagi hatiku yang gelombang. 
Dekatmu membuat pergi, jauhmu memanggilku datang.”

“'Aku mencintaimu', begitu laut berkata, 
setiap kali ia menampar pantai dengan ombaknya.”

“Aku dan kau, kuharap, ada di pantai lengang itu, menjemur hati kita basah, 
riangkan segala sesuatu yang kau namai resah.” 

“Aku adalah lautmu, cintailah aku seperti ombak. 
Ombak akan selalu kembali, 
dan tak pernah benar-benar meninggalkan lautnya sendiri.” 

“Aku selalu menganggap rindu adalah adalah pantai tak bertepi, di laut-laut sunyi.”

“Hatimu sedalam lautan, kukira aku telah menyelam, ternyata hanya bermain-main ombak yang gelisah di pantai.”

“Kita adalah ombak, yang saling melepas di pantai-pantai terjal, 
tapi tak pernah kehilangan.”

“Kau adalah pantai, dan aku lautmu; 
rindu saling berpeluk.”

“Bersabdalah ombak pada laut:
kibarkan layar jantung perahu.
hiduplah, seberapa jauh menaklukkan ketakutan, pada waktu.”

“Aku hanya diam, memandang laut yang paling jauh. 
Setiap ombaknya mengalun, pantai jadi kepayang.”

“Di hidup yang bagai laut, kau adalah ombak, dan aku pantai.
Jika laut tak punya pantai, ke manakah ombak melabuhkan riuhnya?”

“Rindu menjadi haru biru air laut, 
hembusan angin pantai mengantarkanku 
ke pelukan ombak yang menerjang.”

“Tanpa cinta, hatiku hanya pantai yang jauh dari gemuruh laut.”

“Pasir putih, hening laut. 
Kita berjalan di pantai, 
dan membiarkan sisa hangatnya tertinggal di telapak kaki kita, selamanya.”

“Di tepian pantai, aku tengah memandang jauh ke laut lepas, 
dan menemukanmu karam, di palung terdalam pikiranku.”

“Rinduku seperti deburan ombak; bergelombang, berteriak kepada pantai; 
mungkin, laut yang menyatukan kita.”

“Kutulis sebuah sajak tentang rindu yang terombang-ambing di laut luas bernama jarak,
hingga terdampar di pantai hatimu.”

“Sebelumnya, kita tak pernah tahu, 
laut adalah maut yang lembut.”

“Waktu, jatuh cinta kepada matamu,
sepasang laut, yang sanggup melembutkan maut.”

“Rindu tak lain laut di hadapanmu,
deburnya adalah maut, 
dan kau sedang berdiri di tebing pantai yang menginginkan kau mati.” 

P.S: Ya, karena laut, dan pantai, adalah objek yang paling indah untuk sajak-sajak terindah. 
————————————————————————————————————————

God, I'm too in love! 
Aku jatuh cinta dan akan selalu jatuh cinta dengan laut dan pantai beserta ombaknya, pasirnya, anginnya, awannya, biru langitnya, dan birunya laut dan pantai itu sendiri. :)

Tuesday, August 20, 2013

“i am not in a long distance relationship with you. 
my love is much wider than nusantara.”

                                               -@hurufkecil

Tuesday, August 6, 2013

Head vs Heart

Saat kamu jatuh cinta, teori tak lagi sama dengan yang terjadi
Logika tidak lagi akan ada
Bibir bisa saja berkata bahwa ini sepertinya "berlebihan"
Sekeras apapun kamu coba pahami
Hati tetap tidak akan terima
Coba untuk jujurkan hati untuk yang satu ini

Satu hal...
Apa yang kamu pikirkan tak akan pernah sama dengan yang orang lain pikirkan
Tak harus  berfikir berat untuk mengatakan perasaan yang sesungguhnya
Tak pernah sama apa yang ada dalam benakmu dengan apa yang orang lain rasakan
Cobalah untuk memandang dari sudut pandang yang berbeda
Jangan keraskan hatimu

Karena

Saat kamu mencintai seseorang
Kamu akan mengerti
Bahwa gengsi akan terkalahkan dengan rasa takut kehilangan
Kamu akan mau belajar untuk mengerti
Memahami dan menjaga rasa yang seharusnya dijaga

.. Saat kita bahagia di cemburui nya
Mungkin dia pun begitu
Ingin rasa cemburu darimu, yg dia cintai
Pernah terfikir?
Ketika berfikir gengsi
Dia akan berfikir sebaliknya
Bahwa terkadang cinta butuh cemburu.

————————————————————————————————————————

Kaget aja ngeliat mama nulis ginian di note. Terus akhirnya mutusin buat ngeblog biarpun tau udah dari jaman dinosaurus kali blog ga pernah dibuka. Oke ini lebay.

Yah ini adl nasihat ibu ke anaknya yg super duper keras, bahkan batu aja kayanya kalah.
Anaknya cuma pengen dingertiin tanpa harus diungkapin dulu ke orang. Kamu pikir cowok itu dukun apa yg bakal selalu bisa nebak isi hati ato pikiranmu?
Karena, isi pikiran orang2 itu akan selalu beda dr isi pikiranmu. Mungkin itu salah satu alasan, kenapa Tuhan ciptain mulut buat kita. 
Dan waktu percakapan anak itu dgn ibunya selesai, dia baru terpikir:
Semua yg dia pikir masalah itu adalah kesalahan dirinya sendiri.